KONSEP ILMU DILALAH ( SEMANTIK)
KONSEP ILMU DILALAH ( SEMANTIK)
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Tugas
Pada Mata Kuliah
Ilmu Dilalah Wal Maajim
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Semester 6
Oleh
Rofi udin
Nisauswatun khasanah
Siti Mutmainah Panigoro
Dosen Pengampu
Dr. Damhuri, S,Ag.,M,Ag
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
ISTITUT AGAMA ISLAM NEGRI SULTAN AMAI GORONTALO
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bahasa sama pentingnya dengan udara yang setiap saat dihirup
manusia, aktifitas bahasa tak pernah berhenti. Bahasa ada seiring dengan adanya
kehidupan. Bahkan dalam keyakinan agama musia yang telah mati pun malakukan
interaksi walaupun dalam konteks dan bentuk yang berbeda. Bahasa bukan
semata-mata milik manusia, bahkan mahluk hidup lainya juga memiliki bahasa
sesuai dengan bahasanya.
bahasa al-quran memiliki yang memiliki mutu
sastra yang sangat tinggi, gaya bahasanya indah, sehingga tidak dengan mudah
orang dapat memahami makna yang terkandung dalam al-Quran. Oleh sebab itu di butuhkan penafsiran yang mendalam agar suapaya
makna yang terkandung dalam al-Quran dapat dipahami.[1]Alat
bantu untuk memahami makna tersebut iyalah ilmu-ilmu al-Quran yang telah di
sepakati, termasuk ilmu kebahasaan. Dalam ilmu kebahasaan atau linguistik
terdapat banyak cabang ilmu salah satunya adalah ilmu semantik (ilmu dilalah) yang merupakan ilmu kebahasaan. Semantik merupakan
cabang ilmu linguistik yang
mengkaji makna.
Dalam ilmu linguistik, terdapat beberapa pendekatan dalam kajian
semantik seperti semantik struktural, semantik
berasaskan kebenaran, semantik formal dan
semantik kognitif. Setiap pendekatan mempunyai beberapa teori secara umum,
semantik struktural mengkaji makna sebagai satu sistem. Sematik bersayaratkan
mengaitkan makna dengan suatu kebenaran.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang tersebut maka di ambil rumusan masalah sebagai
nberikut:
1.
Apa
pengrtian ilmu dilalah.?
2.
Apa
pengertian ilmu Semantik menurut para ahli.?
3.
Apa
saja ruanglingkup kajian semantik.?
4.
Hubungan
ilmu dilalah dengan ilmu-ilmu linguistik dan non linguistik.?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian ilmu dilalah
2.
Untuk
mengetahui pengertian ilmu semantik menurut para ahli
3.
Untuk
mengetahui apa saja ruanglingkup
4.
Untuk
mengetahui hubungan ilmu dilalah dengan ilmu-ilmu linguistik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ilmu Semantik/Ilmu Dilalah
Ilmu semantik diambil dari bahasa inggris semantics, yang
kata tersebut berasal dari bahasa Yunani samaino yang berarti to
signify atau memaknai.[2]
Atau dapat pula berasal dari kata sema yang berarti tanda atau lambang.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia semantik diartikan
sebgai ilmu tentang makna kata dan kalimat; penegtahuan mengenai seluk beluk
dan pergeseran makna kata.[3]
Sebuah makna kata terikat dengan pemakai dan pemakaiannya. Karena itu dalam
berkomunikasi para penutur tidak hanya mengkomunikasikan makna melainkan juga
mengkomunikasikan perasaan. Sedangkan dalam disiplin ilmu bahasa arab ilmu semantik
dikenal dengan ilmu Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŲÆŁŲ§ŁŲ© namun ada juga yang menamakan dengan Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŁ
Ų¹ŁŁ.[4] Ilmu dilalah
berasal dari kata ŲÆŁَ-
ŁŲÆŁَ yang berarti
petunjuk.
Semantik dapat
diartikan dengan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian
yang lebih luas dari kata, begitu luasnya sehingga hampir apa saja yang
memiliki makna merupakan objek dari pada ilmu semantik.[5]
Semantik merupakan
bagian dari linguistik, seperti halnya bunyi dan tata bahasa, ia menduduki
tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkatan kedua dan komponen makna menduduki
tingkatan ketiga. Hubungan ketiga komponen ini sesuai dengan kenyataan bahwa bahasa
terdiri dari unsur bunyi, lambang dan makna.
Dari penejelasan tersebut dapat dipahami bahwa semantik merupakan
cabang ilmu linguistik yang dalam bahasa arab disebut dengan ilmu dilalah ilmu yang
mempelajari seluk beluk mengenai makna
B. Pengertian Ilmu Semantik Menurut
Para Ahli
Pengertian Ilmu Semantik yang dikemukakan oleh para ahli
sebagai berikut:
1.
Nick
Riemer
Semantik adalah
salah satu bagian yang paling kaya dan paling menarik dari bahasa.
2.
Ahmad
Mukhtar’ Umar
Kajian tentang
makna, atau ilmu-ilmu yang membahas mengenai makna, atau cabang linguistik
(ilmu bahasa) yang mengkaji teori makna atau cabang linguistik yang mengkaji
syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengungkapkan lambang-lambang bunyi
sehingga mempunyai makna.[6]
3.
John
I saedeed
Semantik adalah
pembelajaran tentang makna yang dilakukan melalui komunikasi
4.
Ronnie
can
Semantik adalah
setudi tentang makna yang di ungkapkan oleh kata, frasa dan kalimat dari bahasa
manusia.
5.
Izutsu
Semantik
merupakan suatu kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci dari suatu
bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai kepada pengertian konsep
tual atau pandangan dunia masyarakt yang menggunakan bahasa tidak hanya sebagai
alat berbicara dan alat berfikir tetapi, lebih penting, penafsiran dan
pengkonsepan dan penasfsiran dunia yang melengkapinya.
6.
Moh
Matsna
Ilmu
dilalah(semantik dalam bahasa arab) yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna
suatu bahasa, baik pada tataran mufrad (kosakata) maupun pada tataran tarkib
(struktur).[7]
7.
Chaer
Yang menyatakan
bahwa seorang wartawan, seorang reporter, atau orang-orang yang berkecimpung
dalam dunia persuratkabaran dan pemberitaan, mereka barangkali akan memperoleh
manfaat praktis dan pengetahuan mengenai semantik
8. Palmer
menyatakan
bahwa semantik yang semula berasal dari bahasa Yunani, mangandung makna to
signifity atau mamaknai. Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengertian
“studi tentang makna”. Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa,
maka semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata
bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila
komponen bunyi umumnya menduduki tingkat pertama, tata bahasa pada tingkat
kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir. Semantik adalah
cabang linguistik yang membahas arti atau makna.
9.
Ferdinand
de Saussure
yaitu terdiri
dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa
dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
10. Keraf
Semantik adalah bagian dari linguistik yang meneliti makana dalam bahasa
tertent, mencari asal mula dan perkembangan suatu kata. [8]
11. Slamet Muljana
Semantik adalah pnelitian makna kata
dalam bahasa tertentu.
C. Ruang
Lingkup Kajian Semantik[9]
Ruang
lingkup kajian semantik meliputi:
Ruang
lingkup kajian semantik berada pada tataran fonologi,morfologi dan sintaksis.
1. Makna dalam lingkup fonologi/Ų§ŁŲµŁŲŖŁŲ©
Fonologi
sebagai salah satu kajian linguistik adalah suatu
ilmu yang mengkaji fungsi bunyi-bunyi dalam bahasa tertentu yang dapat
membedakan makna suatu kata dengan lainnya. Makna fonologis ini bisa berbentuk
fonem, stress (nabr), atau intonasi (tanghim). Ada beberapa
pendapat tentang apa itu fonem? Namun secara garis besar dapat disimpulkan,
fonem adalah:
Ų£ŲµŲŗŲ±
ŁŲŲÆŲ© ŲµŁŲŖŁŲ© ŁŲŖŁ
ŁŲ² ŲØŁŲ§ Ł
Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ
Ų©
Unit bunyi
terkecil yang dapat membedakan arti kata
fonem-fonem itu memang tidak memiliki makna, namun ia dapat
membedakan makna suatu kata dengan lainnya. Dan untuk mengenai apakah bunyi itu
merupakan satuan bunyi atau fonem yang sama atau bukan yang dapat membedakan
makna kata, biasanya diadakan kontras dua kata.
Contohnya:
ŲŖŲ§ŲØ dengan dikontraskan Ų·Ų§ŲØ
Ų¹ŁŁ
dengan dikontraskan Ų£ŁŁ
ŲØŲ± dengan
dikontraskan ŲØŲ±
Apa yang membedakan makna kata-kata yang dikontraskan di atas?
Jelas karena pada:
- Kata Ų·Ų§ŲØ ada bunyi Ų·Ų§Ų” dan pada kata ŲŖŲ§ŲØ ada bunyi ŲŖŲ§Ų”
- Kata Ų£ŁŁ
ada bunyi ŁŁ
Ų²Ų© dan pada kata Ų¹ŁŁ
ada bunyi Ų¹ŁŁ
- Kata ŲØŲ± ada bunyi ŁŲŖŲŲ© dan pada kata ŲØŲ± ada bunyi ŁŲ³Ų±Ų©
2. Makna dalam lingkup morfologi/ Ų§ŁŲµŲ±ŁŁŲ©
Morfologi adalah bagian linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi
mempelajari dan menganalisi struktur, bentuk dan kalsifikasi kata-kata dalam
ilmu bahasa arab ilmu morfologi ini adalah ilmu saraf. Secara devinitiv morfologi
adalah:
Ų£ŲµŲŗŲ±
ŁŲŲÆŲ© ŁŲŗŁŁŲ© Ų°Ų§ŲŖ Ł
Ų¹ŁŁ ŁŁ ŁŲŗŲ© Ł
Ų§
“unit bahasa terkecil yang memiliki makna”
Contoh kata:
Ų¶Ų±ŲØ: ŁŲ¶Ų±ŲØ
Ų¶Ų§Ų±ŲØ
Kita akan mendapat arti kata-kata di atas
sebagai beriku:
Kata Ų¶Ų±ŲØ merupakan fi’il madhi,
menunjukan arti pemukulan yang telah berlalu
Kata ŁŲ¶Ų±ŲØ merupakan fi’il
mudhari, menunjukan arti pemukulan sedang terjadi atau akan terjadi, Serta
pelakunya orang ketiga tunggal mudzakkar.
Kata Ų¶Ų§Ų±ŲØ merupakan fail,
menunjukan arti pelaku yang ditunjukan adanya tambahan alif.
3. Makna dalam lingkup Sintaksis/ Ų§ŁŁŲŁŁŲ©
Dalam kajian linguistik, sintaksis
merupakan garmatikal penyusunan sebuah kalimat sama halnya dengan morfologi.
Bedanya morfologi mengkaji gramatikal di dalam kata itu sendiri sementara
sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata yaitu dalam satuan
yang sering kita kenal dengan kalimat. Makna sintaksis umum adalah makna secara
gramatikal. Secara umum yang dapat dipahami dari sebuah kalimat atau ungkapan.
Misalnya:
Ų§ŲŁ
ŲÆ Ł
Ų³Ų§ŁŲ±)) makna
sintaksis: kalimat berita; Ahmad pergi). Sedangkan makna sintaksis khusus
adalah makna gramatikal khusus yang dipahami melalui kedudukan kata dan
kalimat. Seperti:
) Ł
Ų³Ų§ŁŲ±
Ų£ŲŁ
ŲÆ)
makna sintaksis khusus dari Ų£ŲŁ
ŲÆ adalah fail/subyek).
D. Hubungan
Ilmu Dilalah Denagan Ilmu-ilmu Linguistik dan Non Linguistik
Sebagai sebuah ilmu, ilmu semantik memiliki keterkaitan
dengan ilmu-ilmu lain, baik ilmu-ilmu bahasa maupun non bahasa. Di antara ilmu bahasa yang
berkaitan adalah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Sastra.
Sedangkan ilmu yang memiliki hubungan dengan semantik anatara
laian Sosiologi, Pisikologi, Antropologi dan filsafat.
1.
Hubungan ilmu semantik dengan ilmu linguistik.
a.Fonologi/Ų§ŁŲµŁŲŖŁŲ©
Fonologi
ilmu tentang fonem atau bunyi yang merupakan unsur terkecil dari bahasa.
Perbedaan fonem yang yang dimiliki kata dapat membuat perbedaan makna misalnya
kata babi dan kata babu. Perubahan fonem I dan u merubah makna kata tersebut dari sejenis
hewan (berkaki empat) menjadi sejenis propesi (pembantu rumah tangga) sedang dalam bahasa arab ŁŁŲØ dan ŁŁŲØ karena itu, dalam pandangan kaum otomisme logis, analisis
bahasa harus dimulai dari unsur yang terkecil dalam bahasa, yakni fonem, karena
perbedaan fonem diyakini berpengaruh terhadap ]makna
sebuah kata yang konsekwensinya adalah berpengaruh pada kalimat dan wacana dimana kata tersebut menjadi
unsurnya.
Contoh:
Ų§ŁŲŖ ŲŖŁŁŲ³ Ų§ŁŲØŁŲ§Ų·
Ų§ŁŲŖ ŲŖŁŁŲ³ Ų§ŁŲØŁŲ§Ų·؟
Apabila kedua contoh tersebut diungkapkan dengan nada
yang sama ( nada datar), maka keduanya memiliki makna yang sama. Akan tetapi
jika jika diungkapkan dengan nada yang berbeda maka akan berbeda pula artinya
kalimat pertama menunujkan kalimat informatif kalimat kedua merupakan kalimat
tanya.
b. Morfologi/Ų§ŁŲµŲ±ŁŁŲ©
Sebagai ilmu yang memepelajari kaidah bentuk dan
pembentukan kata, morfologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu
semantik/ ilmu dilalah. Hal ini di
karenakan pembentukan kata yang salah mengakibatkaan makna tersebut berbeda
atau bahkan tidak bermakna. Misalnya kata juang dalam kalimat bangsa Indonesia
juang merebut kemerdekaan, kata juang dalam kalimat tersebut
mestinya berubah menjadi berjuang. Contoh dalam bahasa arab misalnya kata Ų°ŁŲ± artinya menyebut atau
mengingat. Makna ini akan mengalami perubahan ketika kata Ų°ŁŲ± dibentuk menjadi Ų°Ų§ŁŲ± sehingga maknanya
berubah menjadi “saling mengingatkan” “bermusyawarah” atau diskusi.
c. Sintaksis/Ų§ŁŁŲŁŁŲ©
Sintaksisi merupakan cabang linguistic yang mempelajari
struktur kalimmat dan bagian-bagianya. Menjelaskan sintaksis sebagai cabang
ilmu Bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat klausa, dan frasa. Kalimat yang tersusun secara teratur akan lebih mudah dipahami
maknanya disbanding kalimat yang susunanya tidak teratur. Sebuah kalimat
tersusun dari beberapa fungsi sintaksisi seperti subjekl predikat, objek, dan
keterangggan. Fungsi sintaksis tersebut tersusun secara logis agar makna
kalimat mudah dipahami. “kanika tinkeaw sudah belajar Bahasa Indonesia selam
empat bulan.” Lebih mudah dipahami, di bandingak dengan kalimat, “sudah kannika
tinkaew Bahasa Indonesia belajar selama empat bulan.” Di sinilah hubungan
antara semantic dan sintaksis dapat dirasakan. Dalam contoh bahasa arab misalnya kata Ų¶Ų±ŲØ yang bermakna “memukul”
jika kata kerja dibaca Ų¶ُŲ±ِŲØَ ia akan berubah makna menjadi “dipukul” akibat perubahan
dari kata kerja aktif (ma’lum) menjadi kata kerja pasif (maj’hul).[10]
d. Sastra
Sastra
merupakan karya fiksi yang mengunakan Bahasa sebagai media penyampai pesanya.
Karena penggunaan Bahasa sastar bersinggungan dengan semantik.
Tetapi, berbeda dengan Bahasa ilmiah dan Bahasa sehari-hari, Bahasa sastra
merupakan salah satu bentuk idiosyncratic, yakitu kata-kata yang digunakan
adalah hasil hasil dari exspresi penulisnya. Pengunaan gaya Bahasa yang tidak
lazim dalam Bahasa sehari-hari maupun
ilmiah banyak dijumpai dalam karya sastra. Bahasa metaforis dan alegoris
menjadi bagian yang menghambat sebuah karya sastra menarik dibaca dan dimaknai.
Berikut contoh Bahasa alegoris dalam puisi karya sitor situmorang:
Akulah telaga
Berlayar di
atasku
Hadapi
riak-riak kecil yang mengoyahkan bunga padma
sesampainya di
tepi
tinggalkan
perahumu, biar aku yang menjaga.
2.
Hubungan Semantik/dilalah dengan non-linguistik
a. Sosiologi
Ungkapan
Bahasa menunjukan bangsa tetapt sekali untuk menggambarkan hubungan antara ilmu
semantik/ilmu dilalah dengan ilmu sosiologi. Kata atau kalimat yang digunakan
masyarakat tertentu dapat mengandung makna berbeda pada masyarakat lainya.
Dengan demikian, kata tertentu dapat menandai identitas kelompok penuturnya.
Misalnya, kata gedang yang bagi masyarakat jawa berarti pisang, bagi masyarakat
sunda kata tersebut berarti papaya. Sebaliknya, gagasan
yang sama diungkapkan gagasan betapa berharganya waktu, masyarakat arab
mengungkapkan, ŁŲ§ŁŲ³ŁŁ Ų§ŁŁŁŲŖ
(ilmu itu bagaikan pedang), sedangkan masyarakat eropa mengunakan ungkapan,
Time is money (waktu adalah uang).
Hubungan antara ilmu semantik/illmu
dilalah dan ilmu sosiologi melahirkan ilmu baru yang melihat makna dari sudut
pandang sosiologis, yakni sosiolinguistik. Sosial linguistik ini mengkaji
Bahasa dalam penggunaan sehari-hari oleh masyarakt tertentu, Kajian-kajian ini
biasanya difokuskan pada masyarakat Bahasa, alih kode dan ganti kode, pembakuan
Bahasa, dan pembinaan bahasa.
b. Pisikologi
Dalam
memahami makna bahasa, unsur kejiwaan seperti kesadaran batin, pikiran,
asosiasi, pengalaman dan perasaan tertentu tidak dapat dilepaskan. Keterkaitan
semantik dengan pisikologi ini ada pada sejumlah aliran dalam pisikologi
seperti behaviorisme dan kognitivisme. Pisikologi behavioris memahami makna
berdasar realisasi stimulus dan respon sesuai dengan asosiasi. Dan hasil
belajar yang dimiliki. Aminuddin mencontohkan seseorang dapat membedakan makna
kucing dan anjing berdasrkan hasil belajar bahwa kedua binatang itu memiliki
bentuk, ciri-ciri, dan perilaku yang berbeda, seseorang akan marah jika
dikatakan, kamu seperti anjing! Karena dia telah mampu membedakan bentuk dan
prilaku anjing
Sedangkan pisikologi kognitivisme
beranggapan bahwa makna bahasa berkaitan dengan aspek kejiwaan dan dalam
kaitanya dengan yang diacu konteks pemakaiannya. Misalnya seorang bapak kos
megatakan kepada seorang mahasiswa yang sedang mengunjungi pacarnya, Mas, ini
sudah pukul sepuluh, tentu maksutnya bukan memberi
tahu bahwa sekarang sudah pukul sepeuluh malam, melainkan maksudnya
memerintakkan mahasiswa tersebut pulang.
c. Antropologi
Antropologi
dan sosiologi memiliki kajian yang relative sama, yakni masalah manusia dalam
masyarakat. Dengan kata lain, sosiologi dan antropologi sama-sma mengkaji
fenomena sosial dan kultural suatu masyarakat. Budaya yang berbeda menyebabkan
ekspresi bahasa menjadi berbeda meskipun realitas yang ingin diungkapkan sama.
Contoh penggunaan kata ngelih dan lesu. Masyarakat jawa tengah mengatakan ngelih
untuk rasa alapar sedangkan masyarakat jawa timur memilih kata lesu.
d. Filsafat
filsafat
merupakan ilmu yang berkenaan dengan hakikat pengetahuan, krearifan, realitas,
dan kebenaran. Hubungan antara ilmu filsafat denngan ilmu semantik/ilmu dilalah
terlihat dalam aktivitas berfilsafat yang memerlukan bahasa sebagai media
proses berfikir dan menyampaikan hasil berpikir tersebut.
Amnuddin menegaskan bahwa kita tidak dapat
memikirkan sesuatu diluar keterbaatasan. Hakiikat realitas yang dapat dipahami
adalah sejauh yang terbahaskan. Pertemuan antara ilmu semantik/ilmu dilalah
dengan filsafat kemudian melahirkan filsafat bahasa.
Dalam kajian filsafat bahasa dikemukakan
bahwa bahasa yangdigunakan sehari-hari mengandung setidaknya lima kelemahan,
yaitu kekaburan arti, makna ganda, ketidak terangan atau ketidak
jelasan tergantu pada konteks dan menyesatkan.
Jika berfilsafat adalah aktifitas berfikir
maka bahasa dan pikiran diyakini memiliki hubungan timbal balik. Pikiran mempengaruhi
bahassa dan bahasa mempengaruhi pikiran manusia tidak bisa berfikir atau
menankap kesan dan membentuk gagasan tanpa bahasa.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. ilmu semantik dikenal dengan ilmu Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŲÆŁŲ§ŁŲ© namun ada juga yang menamakan
dengan Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŁ
Ų¹ŁŁ. Ilmu dilalah berasal dari kata ŲÆŁَ- ŁŲÆŁَ yang berarti petunjuk.
2. Pengertian Ilmu Semantik yang dikemukakan oleh
para ahli seperti Ahmad Mukhtar’ Umar Kajian tentang makna, atau ilmu-ilmu yang
membahas mengenai makna, atau cabang linguistik (ilmu bahasa) yang mengkaji
teori makna atau cabang linguistik yang mengkaji syarat-syarat yang harus
dipenuhi untuk mengungkapkan lambang-lambang bunyi sehingga mempunyai makna.
3. Ruang
lingkup kajian semantik meliputi: Fonologi, Morfologi/ Sharaf dan Sintaksis/ Nahwu
4. ilmu bahasa yang berhubungan dengan ilmu semantik
adalah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Sastra.
Sedangkan ilmu yang memiliki hubungan dengan semantik anatar laian Sosiologi,
Pisikologi,
Antropologi
dan filsafat.
DAFTAR PUSTAKA
Quraish M. Shihab.1994. Membumikan
Al-Quran-Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan
Aminuddin.2008. Semantik:
Pengantar Studi Tentang Makna ( Bandung:
PT. Sinar
Baru Algesindo,)
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2009. Kamus
Besar Bahasa Indonesia Jakarta:
Rineka Cipta,
Ayuningtias. 2016. Penggunaan istilah
Bahasa Arab Oleh Aktivis Rohis di Universitas Negeri Semarang( Analisis
Semantis dan Sosiolinguistik) Dss. Universitas Negri Semarang,.
Izutsu Toshihiko.1997. Relasi
Tuhan dan Manusia Yogyakarta: Tiara Wacana,
Matsna Moh. 2016. kajian semantik arab
klasik dan kontemporer, Jakarta: Prenadamedia Group
Mukhtar Ahmad .1998. ‘umar, ‘ilm dilalah kairo: Maktabah lisan al- Arab
Khalwani Ahmad. 2017. “ Kata Bermakna Hujan
Dalam Al-Quran (Tinjauan Semantik Dan Stilistika).” Lisanu’Arab: Journal of
Arabic Leaming and Teaching 6.1.
Erwin, Suryaningrat. 2019."Pengertian
Sejarah dan Ruanglingkup Kajian
Semantik”(Ilmu Dalalah)." At-Ta'lim: Media Informasi
Pendidikan Islam 12.1 .
Zaky Ahmad. 2017. Perkembangan
Dalalah.” E-Journal STAI As-sunnah Deli serdang 2.1
[1]M. Quraish
Shihab, Membumikan Al-Quran-Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), h.122.
[2]Aminuddin, Semantik:
Pengantar Studi Tentang Makna (Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo, 2008), h.
15
[3]Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta,
2009), h. 850.
[4]Ayuningtias, Penggunaan istilah Bahasa Arab Oleh Aktivis Rohis di
Universitas Negeri Semarang( Analisis Semantis dan Sosiolinguistik) Dss.
Universitas Negri Semarang, 2016. h. 9
[6]Moh Matsna,
kajian semantik arab klasik dan kontemporer, Jakarta:
Prenadamedia Group, 2016. h. 3.
[7]Ahmad Mukhtar ‘umar,
‘ilm dilalah (kairo: Maktabah lisan al- Arab, 1998), h.11.
[8]Ahmad Khalwani, “ Kata Bermakna Hujan Dalam Al-Quran (Tinjauan Semantik
Dan Stilistika).” Lisanu’Arab: Journal of Arabic Leaming and Teaching 6.1
(2017). h. 2.
[9]Suryaningrat, Erwin."Pengertian
Sejarah dan Ruanglingkup Kajian
Semantik”(Ilmu Dalalah)." At-Ta'lim: Media Informasi
Pendidikan Islam 12.1 (2019) h. 105-125.
[10]Ahmad Zaky, Perkembangan Dalalah.”
E-Journal STAI As-sunnah Deli serdang 2.1 (2017), h. 108
Comments
Post a Comment