KONSEP ILMU DILALAH ( SEMANTIK)


KONSEP ILMU DILALAH ( SEMANTIK)

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Tugas
Pada Mata Kuliah Ilmu Dilalah Wal Maajim
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Semester 6



Oleh
Rofi udin
Nisauswatun khasanah
Siti Mutmainah Panigoro

Dosen Pengampu
Dr. Damhuri, S,Ag.,M,Ag

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
ISTITUT AGAMA ISLAM NEGRI SULTAN AMAI GORONTALO
2020

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa sama pentingnya dengan udara yang setiap saat dihirup manusia, aktifitas bahasa tak pernah berhenti. Bahasa ada seiring dengan adanya kehidupan. Bahkan dalam keyakinan agama musia yang telah mati pun malakukan interaksi walaupun dalam konteks dan bentuk yang berbeda. Bahasa bukan semata-mata milik manusia, bahkan mahluk hidup lainya juga memiliki bahasa sesuai dengan bahasanya.
bahasa al-quran memiliki yang memiliki mutu sastra yang sangat tinggi, gaya bahasanya indah, sehingga tidak dengan mudah orang dapat memahami makna yang terkandung dalam al-Quran. Oleh sebab itu di butuhkan penafsiran yang mendalam agar suapaya makna yang terkandung dalam al-Quran dapat dipahami.[1]Alat bantu untuk memahami makna tersebut iyalah ilmu-ilmu al-Quran yang telah di sepakati, termasuk ilmu kebahasaan. Dalam ilmu kebahasaan atau linguistik terdapat banyak cabang ilmu salah satunya adalah ilmu semantik (ilmu dilalah) yang merupakan ilmu kebahasaan. Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna.
Dalam ilmu linguistik, terdapat beberapa pendekatan dalam kajian semantik seperti semantik struktural, semantik berasaskan kebenaran, semantik formal dan semantik kognitif. Setiap pendekatan mempunyai beberapa teori secara umum, semantik struktural mengkaji makna sebagai satu sistem. Sematik bersayaratkan mengaitkan makna dengan suatu kebenaran.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka di ambil rumusan masalah sebagai nberikut:
1.      Apa pengrtian ilmu dilalah.?
2.      Apa pengertian ilmu Semantik menurut para ahli.?
3.      Apa saja ruanglingkup kajian semantik.?
4.      Hubungan ilmu dilalah dengan ilmu-ilmu linguistik dan non linguistik.?
C. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian ilmu dilalah
2.      Untuk mengetahui pengertian ilmu semantik menurut para ahli
3.      Untuk mengetahui apa saja ruanglingkup
4.      Untuk mengetahui hubungan ilmu dilalah dengan ilmu-ilmu linguistik
                      

           
















BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu Semantik/Ilmu Dilalah
Ilmu semantik diambil dari bahasa inggris semantics, yang kata tersebut berasal dari bahasa Yunani samaino yang berarti to signify atau memaknai.[2] Atau dapat pula berasal dari kata sema yang berarti tanda atau lambang. Dalam kamus besar bahasa Indonesia semantik diartikan sebgai ilmu tentang makna kata dan kalimat; penegtahuan mengenai seluk beluk dan pergeseran makna kata.[3] Sebuah makna kata terikat dengan pemakai dan pemakaiannya. Karena itu dalam berkomunikasi para penutur tidak hanya mengkomunikasikan makna melainkan juga mengkomunikasikan perasaan. Sedangkan dalam disiplin ilmu bahasa arab ilmu semantik dikenal dengan ilmu علم الدلالة namun ada juga yang menamakan dengan علم المعنى.[4] Ilmu dilalah berasal dari kata ŲÆŁ„َ- ŁŠŲÆŁ„َ   yang berarti petunjuk.
Semantik dapat diartikan dengan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata, begitu luasnya sehingga hampir apa saja yang memiliki makna merupakan objek dari pada ilmu semantik.[5]
Semantik merupakan bagian dari linguistik, seperti halnya bunyi dan tata bahasa, ia menduduki tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkatan kedua dan komponen makna menduduki tingkatan ketiga. Hubungan ketiga komponen ini sesuai dengan kenyataan bahwa bahasa terdiri dari unsur bunyi, lambang dan makna.
Dari penejelasan tersebut dapat dipahami bahwa semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang dalam bahasa arab disebut dengan ilmu dilalah ilmu yang mempelajari seluk beluk mengenai makna
B. Pengertian Ilmu Semantik Menurut Para Ahli
Pengertian Ilmu Semantik yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
1.      Nick Riemer
Semantik adalah salah satu bagian yang paling kaya dan paling menarik dari bahasa.
2.      Ahmad Mukhtar’ Umar
Kajian tentang makna, atau ilmu-ilmu yang membahas mengenai makna, atau cabang linguistik (ilmu bahasa) yang mengkaji teori makna atau cabang linguistik yang mengkaji syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengungkapkan lambang-lambang bunyi sehingga mempunyai makna.[6]
3.      John I saedeed
Semantik adalah pembelajaran tentang makna yang dilakukan melalui  komunikasi
4.      Ronnie can
Semantik adalah setudi tentang makna yang di ungkapkan oleh kata, frasa dan kalimat dari bahasa manusia.
5.      Izutsu
Semantik merupakan suatu kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci dari suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai kepada pengertian konsep tual atau pandangan dunia masyarakt yang menggunakan bahasa tidak hanya sebagai alat berbicara dan alat berfikir tetapi, lebih penting, penafsiran dan pengkonsepan dan penasfsiran dunia yang melengkapinya.
6.      Moh Matsna
Ilmu dilalah(semantik dalam bahasa arab) yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna suatu bahasa, baik pada tataran mufrad (kosakata) maupun pada tataran tarkib (struktur).[7]
7.      Chaer
Yang menyatakan bahwa seorang wartawan, seorang reporter, atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persuratkabaran dan pemberitaan, mereka barangkali akan memperoleh manfaat praktis dan pengetahuan mengenai semantik
8.      Palmer
menyatakan bahwa semantik yang semula berasal dari bahasa Yunani, mangandung makna to signifity atau mamaknai. Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”. Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkat pertama, tata bahasa pada tingkat kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir. Semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna.
9.      Ferdinand de Saussure
yaitu terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
10. Keraf
Semantik adalah bagian dari linguistik yang meneliti makana dalam bahasa tertent, mencari asal mula dan perkembangan suatu kata. [8]
11. Slamet Muljana
Semantik adalah  pnelitian makna kata dalam bahasa tertentu.

C. Ruang Lingkup Kajian Semantik[9]
Ruang lingkup kajian semantik meliputi:
Ruang lingkup kajian semantik berada pada tataran fonologi,morfologi dan sintaksis.
1. Makna dalam lingkup fonologi/Ų§Ł„ŲµŁˆŲŖŁŠŲ©
Fonologi sebagai salah satu kajian linguistik adalah suatu ilmu yang mengkaji fungsi bunyi-bunyi dalam bahasa tertentu yang dapat membedakan makna suatu kata dengan lainnya. Makna fonologis ini bisa berbentuk fonem, stress (nabr), atau intonasi (tanghim). Ada beberapa pendapat tentang apa itu fonem? Namun secara garis besar dapat disimpulkan, fonem adalah:
 Ų£ŲµŲŗŲ± وحدة صوتية ŁŠŲŖŁ…ŁŠŲ² بها معنى Ų§Ł„ŁƒŁ„Ł…Ų© 
Unit bunyi terkecil yang dapat membedakan arti kata
fonem-fonem itu memang tidak memiliki makna, namun ia dapat membedakan makna suatu kata dengan lainnya. Dan untuk mengenai apakah bunyi itu merupakan satuan bunyi atau fonem yang sama atau bukan yang dapat membedakan makna kata, biasanya diadakan kontras dua kata.
Contohnya:
ŲŖŲ§ŲØ dengan dikontraskan Ų·Ų§ŲØ
 Ų¹Ł„Ł… dengan dikontraskan ألم
ŲØŲ± dengan dikontraskan ŲØŲ±
Apa yang membedakan makna kata-kata yang dikontraskan di atas?
Jelas karena pada:
- Kata Ų·Ų§ŲØ ada bunyi Ų·Ų§Ų” dan pada kata ŲŖŲ§ŲØ ada bunyi ŲŖŲ§Ų”
- Kata ألم ada bunyi همزة dan pada kata علم ada bunyi Ų¹ŁŠŁ†
- Kata بر ada bunyi فتحة dan pada kata بر ada bunyi كسرة
2. Makna dalam lingkup morfologi/ Ų§Ł„ŲµŲ±ŁŁŠŲ©
Morfologi adalah bagian linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi mempelajari dan menganalisi struktur, bentuk dan kalsifikasi kata-kata dalam ilmu bahasa arab ilmu morfologi ini adalah ilmu saraf. Secara devinitiv morfologi adalah:
Ų£ŲµŲŗŲ± وحدة Ł„ŲŗŁˆŁŠŲ© Ų°Ų§ŲŖ معنى في لغة Ł…Ų§
“unit bahasa terkecil yang memiliki makna
             Contoh kata:
ضرب: يضرب
       Ų¶Ų§Ų±ŲØ
Kita akan mendapat arti kata-kata di atas sebagai beriku:
Kata Ų¶Ų±ŲØ merupakan fi’il madhi, menunjukan arti pemukulan yang telah berlalu
Kata يضرب merupakan fi’il mudhari, menunjukan arti pemukulan sedang terjadi atau akan terjadi, Serta pelakunya orang ketiga tunggal mudzakkar.
Kata Ų¶Ų§Ų±ŲØ merupakan fail, menunjukan arti pelaku yang ditunjukan adanya tambahan alif.
3. Makna dalam lingkup Sintaksis/ Ų§Ł„Ł†Ų­ŁˆŁŠŲ©
Dalam kajian linguistik, sintaksis merupakan garmatikal penyusunan sebuah kalimat sama halnya dengan morfologi. Bedanya morfologi mengkaji gramatikal di dalam kata itu sendiri sementara sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata yaitu dalam satuan yang sering kita kenal dengan kalimat. Makna sintaksis umum adalah makna secara gramatikal. Secara umum yang dapat dipahami dari sebuah kalimat atau ungkapan. Misalnya:
Ų§Ų­Ł…ŲÆ مسافر)) makna sintaksis: kalimat berita; Ahmad pergi). Sedangkan makna sintaksis khusus adalah makna gramatikal khusus yang dipahami melalui kedudukan kata dan kalimat. Seperti:
) مسافر Ų£Ų­Ł…ŲÆ) makna sintaksis khusus dari Ų£Ų­Ł…ŲÆ adalah fail/subyek).
D. Hubungan Ilmu Dilalah Denagan Ilmu-ilmu Linguistik dan Non Linguistik
Sebagai sebuah ilmu, ilmu semantik memiliki keterkaitan dengan ilmu-ilmu lain, baik ilmu-ilmu bahasa maupun non bahasa. Di antara ilmu bahasa yang berkaitan adalah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Sastra. Sedangkan ilmu yang memiliki hubungan dengan semantik anatara laian Sosiologi, Pisikologi, Antropologi dan filsafat.    
1.      Hubungan ilmu semantik dengan ilmu linguistik.
a.Fonologi/Ų§Ł„ŲµŁˆŲŖŁŠŲ©
Fonologi ilmu tentang fonem atau bunyi yang merupakan unsur terkecil dari bahasa. Perbedaan fonem yang yang dimiliki kata dapat membuat perbedaan makna misalnya kata babi dan kata babu. Perubahan fonem I dan u        merubah makna kata tersebut dari sejenis hewan (berkaki empat) menjadi sejenis propesi (pembantu rumah tangga) sedang dalam bahasa arab قلب  dan ŁƒŁ„ŲØ karena itu, dalam pandangan kaum otomisme logis, analisis bahasa harus dimulai dari unsur yang terkecil dalam bahasa, yakni fonem, karena perbedaan fonem diyakini berpengaruh terhadap ]makna sebuah kata yang konsekwensinya adalah berpengaruh pada kalimat  dan wacana dimana kata tersebut menjadi unsurnya.
Contoh:
انت ŲŖŁƒŁ†Ų³ البلاط
انت ŲŖŁƒŁ†Ų³ البلاط؟
Apabila kedua contoh tersebut diungkapkan dengan nada yang sama ( nada datar), maka keduanya memiliki makna yang sama. Akan tetapi jika jika diungkapkan dengan nada yang berbeda maka akan berbeda pula artinya kalimat pertama menunujkan kalimat informatif kalimat kedua merupakan kalimat tanya.
b. Morfologi/Ų§Ł„ŲµŲ±ŁŁŠŲ©
Sebagai ilmu yang memepelajari kaidah bentuk dan pembentukan kata, morfologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu semantik/ ilmu dilalah. Hal ini di karenakan pembentukan kata yang salah mengakibatkaan makna tersebut berbeda atau bahkan tidak bermakna. Misalnya kata juang dalam kalimat bangsa Indonesia juang merebut kemerdekaan, kata juang dalam kalimat tersebut mestinya berubah menjadi berjuang. Contoh dalam bahasa arab misalnya kata ذكر artinya menyebut atau mengingat. Makna ini akan mengalami perubahan ketika kata ذكر dibentuk menjadi ذاكر sehingga maknanya berubah menjadi “saling mengingatkan” “bermusyawarah” atau diskusi.

c. Sintaksis/Ų§Ł„Ł†Ų­ŁˆŁŠŲ©
Sintaksisi merupakan cabang linguistic yang mempelajari struktur kalimmat dan bagian-bagianya. Menjelaskan sintaksis sebagai cabang ilmu Bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat klausa, dan frasa. Kalimat yang tersusun secara teratur akan lebih mudah dipahami maknanya disbanding kalimat yang susunanya tidak teratur. Sebuah kalimat tersusun dari beberapa fungsi sintaksisi seperti subjekl predikat, objek, dan keterangggan. Fungsi sintaksis tersebut tersusun secara logis agar makna kalimat mudah dipahami. “kanika tinkeaw sudah belajar Bahasa Indonesia selam empat bulan.” Lebih mudah dipahami, di bandingak dengan kalimat, “sudah kannika tinkaew Bahasa Indonesia belajar selama empat bulan.” Di sinilah hubungan antara semantic dan sintaksis dapat dirasakan. Dalam contoh bahasa arab misalnya kata Ų¶Ų±ŲØ yang bermakna “memukul” jika kata kerja dibaca Ų¶ُŲ±ِŲØَ ia akan berubah makna menjadi “dipukul” akibat perubahan dari kata kerja aktif (ma’lum) menjadi kata kerja pasif (maj’hul).[10]
d. Sastra
Sastra merupakan karya fiksi yang mengunakan Bahasa sebagai media penyampai pesanya. Karena penggunaan Bahasa sastar bersinggungan dengan semantik. Tetapi, berbeda dengan Bahasa ilmiah dan Bahasa sehari-hari, Bahasa sastra merupakan salah satu bentuk idiosyncratic, yakitu kata-kata yang digunakan adalah hasil hasil dari exspresi penulisnya. Pengunaan gaya Bahasa yang tidak lazim  dalam Bahasa sehari-hari maupun ilmiah banyak dijumpai dalam karya sastra. Bahasa metaforis dan alegoris menjadi bagian yang menghambat sebuah karya sastra menarik dibaca dan dimaknai. Berikut contoh Bahasa alegoris dalam puisi karya sitor situmorang:
Akulah telaga
Berlayar di atasku
Hadapi riak-riak kecil yang mengoyahkan bunga padma
sesampainya di tepi
tinggalkan perahumu, biar aku yang menjaga.
 2. Hubungan Semantik/dilalah dengan non-linguistik
a. Sosiologi
Ungkapan Bahasa menunjukan bangsa tetapt sekali untuk menggambarkan hubungan antara ilmu semantik/ilmu dilalah dengan ilmu sosiologi. Kata atau kalimat yang digunakan masyarakat tertentu dapat mengandung makna berbeda pada masyarakat lainya. Dengan demikian, kata tertentu dapat menandai identitas kelompok penuturnya. Misalnya, kata gedang yang bagi masyarakat jawa berarti pisang, bagi masyarakat sunda kata tersebut berarti papaya. Sebaliknya, gagasan yang sama diungkapkan gagasan betapa berharganya waktu, masyarakat arab mengungkapkan,  ŁƒŲ§Ł„Ų³ŁŠŁ Ų§Ł„ŁˆŁ‚ŲŖ (ilmu itu bagaikan pedang), sedangkan masyarakat eropa mengunakan ungkapan, Time is money (waktu adalah uang).
      Hubungan antara ilmu semantik/illmu dilalah dan ilmu sosiologi melahirkan ilmu baru yang melihat makna dari sudut pandang sosiologis, yakni sosiolinguistik. Sosial linguistik ini mengkaji Bahasa dalam penggunaan sehari-hari oleh masyarakt tertentu, Kajian-kajian ini biasanya difokuskan pada masyarakat Bahasa, alih kode dan ganti kode, pembakuan Bahasa, dan pembinaan bahasa.
b. Pisikologi
Dalam memahami makna bahasa, unsur kejiwaan seperti kesadaran batin, pikiran, asosiasi, pengalaman dan perasaan tertentu tidak dapat dilepaskan. Keterkaitan semantik dengan pisikologi ini ada pada sejumlah aliran dalam pisikologi seperti behaviorisme dan kognitivisme. Pisikologi behavioris memahami makna berdasar realisasi stimulus dan respon sesuai dengan asosiasi. Dan hasil belajar yang dimiliki. Aminuddin mencontohkan seseorang dapat membedakan makna kucing dan anjing berdasrkan hasil belajar bahwa kedua binatang itu memiliki bentuk, ciri-ciri, dan perilaku yang berbeda, seseorang akan marah jika dikatakan, kamu seperti anjing! Karena dia telah mampu membedakan bentuk dan prilaku anjing
      Sedangkan pisikologi kognitivisme beranggapan bahwa makna bahasa berkaitan dengan aspek kejiwaan dan dalam kaitanya dengan yang diacu konteks pemakaiannya. Misalnya seorang bapak kos megatakan kepada seorang mahasiswa yang sedang mengunjungi pacarnya, Mas, ini sudah pukul sepuluh, tentu maksutnya bukan memberi tahu bahwa sekarang sudah pukul sepeuluh malam, melainkan maksudnya memerintakkan mahasiswa tersebut pulang.
c. Antropologi
Antropologi dan sosiologi memiliki kajian yang relative sama, yakni masalah manusia dalam masyarakat. Dengan kata lain, sosiologi dan antropologi sama-sma mengkaji fenomena sosial dan kultural suatu masyarakat. Budaya yang berbeda menyebabkan ekspresi bahasa menjadi berbeda meskipun realitas yang ingin diungkapkan sama. Contoh penggunaan kata ngelih dan lesu. Masyarakat jawa tengah mengatakan ngelih untuk rasa alapar sedangkan masyarakat jawa timur memilih kata lesu.
d. Filsafat
filsafat merupakan ilmu yang berkenaan dengan hakikat pengetahuan, krearifan, realitas, dan kebenaran. Hubungan antara ilmu filsafat denngan ilmu semantik/ilmu dilalah terlihat dalam aktivitas berfilsafat yang memerlukan bahasa sebagai media proses berfikir dan menyampaikan hasil berpikir tersebut.
      Amnuddin menegaskan bahwa kita tidak dapat memikirkan sesuatu diluar keterbaatasan. Hakiikat realitas yang dapat dipahami adalah sejauh yang terbahaskan. Pertemuan antara ilmu semantik/ilmu dilalah dengan filsafat kemudian melahirkan filsafat bahasa.
      Dalam kajian filsafat bahasa dikemukakan bahwa bahasa yangdigunakan sehari-hari mengandung setidaknya lima kelemahan, yaitu kekaburan arti, makna ganda, ketidak terangan atau ketidak jelasan tergantu pada konteks dan menyesatkan.
 Jika berfilsafat adalah aktifitas berfikir maka bahasa dan pikiran diyakini memiliki hubungan timbal balik. Pikiran mempengaruhi bahassa dan bahasa mempengaruhi pikiran manusia tidak bisa berfikir atau menankap kesan dan membentuk gagasan tanpa bahasa.





















BAB III
 PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. ilmu semantik dikenal dengan ilmu علم الدلالة namun ada juga yang menamakan dengan علم المعنى. Ilmu dilalah berasal dari kata ŲÆŁ„َ- ŁŠŲÆŁ„َ   yang berarti petunjuk.
2. Pengertian Ilmu Semantik yang dikemukakan oleh para ahli seperti Ahmad Mukhtar’ Umar Kajian tentang makna, atau ilmu-ilmu yang membahas mengenai makna, atau cabang linguistik (ilmu bahasa) yang mengkaji teori makna atau cabang linguistik yang mengkaji syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengungkapkan lambang-lambang bunyi sehingga mempunyai makna.
3. Ruang lingkup kajian semantik meliputi: Fonologi, Morfologi/ Sharaf dan Sintaksis/ Nahwu
4. ilmu bahasa yang berhubungan dengan ilmu semantik adalah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Sastra. Sedangkan ilmu yang memiliki hubungan dengan semantik anatar laian Sosiologi, Pisikologi, Antropologi dan filsafat.    








DAFTAR PUSTAKA

          Quraish M. Shihab.1994. Membumikan Al-Quran-Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan
  Aminuddin.2008. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna ( Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo,)
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Rineka Cipta,
Ayuningtias. 2016. Penggunaan istilah Bahasa Arab Oleh Aktivis Rohis di Universitas Negeri Semarang( Analisis Semantis dan Sosiolinguistik) Dss. Universitas Negri Semarang,.
Izutsu Toshihiko.1997. Relasi Tuhan dan Manusia Yogyakarta: Tiara Wacana,
Matsna Moh. 2016. kajian semantik arab klasik dan kontemporer, Jakarta: Prenadamedia Group
Mukhtar Ahmad .1998. ‘umar, ‘ilm dilalah  kairo: Maktabah lisan al- Arab
Khalwani Ahmad. 2017. “ Kata Bermakna Hujan Dalam Al-Quran (Tinjauan Semantik Dan Stilistika).” Lisanu’Arab: Journal of Arabic Leaming and Teaching 6.1.
Erwin, Suryaningrat. 2019."Pengertian Sejarah dan Ruanglingkup Kajian Semantik”(Ilmu Dalalah)." At-Ta'lim: Media Informasi Pendidikan Islam 12.1 .
 Zaky Ahmad. 2017. Perkembangan Dalalah.” E-Journal STAI As-sunnah Deli serdang 2.1





[1]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran-Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), h.122.
[2]Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna (Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo, 2008), h. 15
[3]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 850.
[4]Ayuningtias, Penggunaan istilah Bahasa Arab Oleh Aktivis Rohis di Universitas Negeri Semarang( Analisis Semantis dan Sosiolinguistik) Dss. Universitas Negri Semarang, 2016. h. 9
[5]Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), h. 2.
[6]Moh Matsna, kajian semantik arab klasik dan kontemporer, Jakarta: Prenadamedia Group, 2016. h. 3.
[7]Ahmad Mukhtar ‘umar, ‘ilm dilalah (kairo: Maktabah lisan al- Arab, 1998), h.11.
[8]Ahmad Khalwani, “ Kata Bermakna Hujan Dalam Al-Quran (Tinjauan Semantik Dan Stilistika).” Lisanu’Arab: Journal of Arabic Leaming and Teaching 6.1 (2017). h. 2.
[9]Suryaningrat, Erwin."Pengertian Sejarah dan Ruanglingkup Kajian Semantik”(Ilmu Dalalah)." At-Ta'lim: Media Informasi Pendidikan Islam 12.1 (2019) h. 105-125.


[10]Ahmad Zaky, Perkembangan Dalalah.” E-Journal STAI As-sunnah Deli serdang 2.1 (2017), h. 108

Comments

Popular posts from this blog